Berbagi tentang mengelola kelas online/daring

Artikel ini merupakan versi tulisan dari video berikut:



Setelah mengajar secara online selama 6-7 bulan ini saya telah mencoba banyak konfigurasi, tata kelola kelas serta metode mengajar. Di artikel singkat ini saya akan berbagi konfigurasi yang menurut saya terbaik hingga saat ini.


Konfigurasi ini sangat membantu saya sebagai pengajar (dosen) serta membantu mahasiswa dalam proses belajar mereka. Saya mengetahui konfigurasi ini baik untuk mahasiswa karena mereka telah memberikan apresiasi, saran dan kritik selama penyelenggaraan pembelajaran online.


Semoga sharing ini bisa membantu rekan-rekan pengajar yang ingin mengoptimalkan tata kelola pengajarannya.


Merencanakan kelas menggunakan Notion


Saya menggunakan Notion untuk merencanakan kelas dalam hal ini berbentuk silabus. Dengan Notion ini, saya bisa membuat jadwal kelas serta memonitor setiap tenggat waktu, jenis tugas, buku referensi dsb. Berikut tampilan Notion dari salah satu mata kuliah yang saya ampu:


Silabus ini dapat diakses oleh mahasiswa, sehingga mereka bisa melihat perubahan pada jadwal kelas secara real time. Anda bisa melihat keseluruhan silabus dan rencana kelas di sini.

Jadwal kelas tentatif dari setiap mata kuliah ini kemudian dapat saya masukan dalam agenda mingguan yang juga saya buat di dalam Notion. Jadi, saya dapat melihat apa yang harus saya lakukan untuk setiap mata kuliah pada setiap minggunya. Anda dapat melihat contoh jadwal mingguan saya sbb:

Learning Management System


Menurut saya, pemilihan Learning Management System (LMS) sangat krusial dalam pembelajaran online/daring. Learning Management System ini akan sangat membantu untuk mengatur kelas baik itu penjadwalan serta pemberian materi dan tugas.


Pertimbangan krusial lainnya bagi saya adalah bagaimana LMS yang saya pilih dapat membantu mahasiswa dan saya sebagai dosen untuk mengatur diri selama belajar atau bekerja di rumah. Karena saya menyadari bahwa untuk disiplin belajar atau bekerja di rumah itu memerlukan suatu sistem yang holistik.


Saya memilih Google Classroom sebagai LMS. Alasannya sederhana, yaitu karena Google Classroom itu buatan Google 😃. Karena buatan Google, Google Classroom terintegrasi dengan Google Calendar. Jadi ketika saya membuat tenggat waktu tugas di Google Classroom, jadwal tersebut langsung muncul di Google Calendar. Mahasiswa juga akan memperoleh notifikasi dari jadwal dan tenggat waktu tugas dsb.


Nah sebelum saya mengundang mahasiswa untuk join di Google Classroom, saya membuat rencana kelas yang cukup detail hingga tenggat waktu tugas. Rencana kelas ini yang saya "copas" dari Notion. Berikut tampilan detail dari Google Classroom salah satu kelas yang saya ampu:



Jadi saya sudah membuat classworks hingga minggu ke-14, lengkap dengan tenggat waktu setiap tugasnya. Tenggat waktu ini yang kemudian akan muncul di Google Calendar. Tujuan saya memilih sistem seperti ini adalah agar mahasiswa memiliki sistem dan penjadwalan yang terstruktur. Menurut saya, selama belajar di rumah ini, mahasiswa harus agak sedikit "dipaksa" untuk memiliki struktur dalam belajar salah satunya dengan Google Classroom dan Google Calendar.


Selain itu, penjadwalan ini juga membantu saya dalam mengatur diri sendiri terutama dalam hal membuat video, memeriksa tugas dsb. Berikut tampilan Google Calendar saya:


Ketika saya membuat sistem seperti ini, saya mendapatkan apresiasi dari beberapa mahasiswa. Salah satu diantara mereka memberikan apresiasi sbb:

Silabus, manajemen kelas dan penjadwalan sudah sangat baik malah baru kali ini saya melihat ada dosen yang menunjukannya secara detil biasanya hanya sekedar materi / sub bab apa yang akan dibahas.
Sistem perkuliahan yang digunaka pak chris sangat nyaman, detail, dan jelas. Saya sangat nyaman dengan sistem logistik yang pak chris buat dengan notion, membantu melihat keseluruhan kuliah selama 14 miggu dengan berbagai detail disana mengenai kuliah per minggunya dan juga tugas.

Tugas Catatan Kuliah


Saya memberi tugas salah satunya berupa catatan kuliah dengan metode Cornell. Berikut pertimbangan saya:

  1. Catatan kuliah menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa saya belajar dari video. Saya juga menjelaskan bahwa "belajar" dari video itu jangan disamakan dengan "nonton" video. Mereka harus dengan tekun belajar tanpa harus terburu-buru, mereka juga bisa memanfaatkan fitur pause, rewind dan replay hingga mereka mengerti isi materi kuliah.

  2. Catatan kuliah saya jadikan sebagai presensi kelas asinkron (asinkron: dimana saya mengajar melalui video dan tidak bertemu dengan mereka melalui video conference).

  3. Catatan kuliah ini menilai proses mahasiswa. Saya ingin menilai proses mereka belajar dan salah satunya adalah memberikan skor 1% dari nilai akhir untuk setiap catatan kuliah.

Pendapat mahasiswa beragam tentang tugas catatan kuliah ini. Berikut beberapa pendapat mereka:

...namun mengenai catatan Cornell sendiri saya kurang menyukainya karena cara membacanya sulit untuk dimengerti (memang belum terbiasa pula). Maka dengan demikian, saya selalu membuat dua catatan, untuk dikumpulkan dengan bentuk Cornell ada pula catatan pribadi dengan style saya pribadi yang bewarna-warni.
Metode catatan cornell sudah baik karena dengan metode ini mahasiswa tentunya akan membaca dan meneliti apa yang dijelaskan oleh dosen, untuk pembagian skala nilai di mata kuliah ini juga sudah jelas.
Hal positif yang sangat saya ambil Salah satunya dari sistem bapak adalah “ resume “ yang dimana menuntut diri saya untuk memperhatikan dan mencata video yang disiapkan oleh bapak, terlebih bapak menganjurkan untuk membuat resume dengan sistem yang mungkin saya belum menggunakanyan untuk mencatat.
Menurut saya, perkuliahan 3 minggu ini berjalan dengan baik, mahasiswa diberikan tugas catatan kuliah sehingga memiliki catatan masing-masing

Sering minta feedback kepada mahasiswa


Rasanya tidak banyak diantara kita yang expert dalam mengajar online/daring. Oleh karena itu, kita memerlukan feedback/kritik/saran/apresiasi saat kita mengajar secara online/daring. Itulah mengapa saya cukup sering meminta feedback dari mahasiswa supaya saya tahu apakah saya sudah menjalankan tugas mengajar saya dengan baik atau tidak.


Di kampus saya sendiri, UNPAR sebetulnya sudah ada sistem feedback. Tapi sistem ini dilakukan di akhir semester. Kebayang dong, kalau misalkan saya baru mendapatkan feedback di akhir semester dan ternyata saya membuat mahasiswa tidak nyaman dalam belajar, tentu sudah terlambat untuk memperbaiki diri.


Itulah mengapa di semester ini, walaupun baru memasuki minggu ke-3, saya sudah menyebar Google Form untuk meminta pendapat mereka. Pada Google Form tersebut hanya terdapat dua pertanyaan sbb:

  1. Feedback/masukan/saran/kritik selama perkuliahan berlangsung (hingga minggu ke-3)