Imaginative Storytelling: bercerita dengan imajinasi

Tulisan ini merupakan bahan komplemen dari webinar yang diadakan oleh Binawarga GKI: Imaginative Storytelling dalam topik Pelayanan Anak. Audience dari webinar ini merupakan para guru sekolah minggu (GSM) serta aktivis pelayanan anak. Salah satu tugas guru sekolah minggu adalah bercerita. Cerita yang dibawakan merupakan cerita Alkitab. Semakin baik seorang GSM bercerita, tentu anak sekolah minggu (ASM) akan mendapat manfaat dan terutama akan semakin mengenal Tuhan.


Storytelling: karakteristik manusia

Storytelling atau bercerita merupakan karakteristik manusia. Manusia secara natural (alamiah) bercerita satu sama lain. Kita secara alami bertukar cerita tentang event kehidupan ketika kita bertemu dengan teman atau keluarga. Bercerita membantu manusia terikat secara sosial antara satu dengan yang lain. Sebuah studi yang dipublikasikan di Nature Communications menjelaskan tentang hal ini:

Bercerita merupakan hal yang kuat untuk membangun kerjasama sosial dan mengajarkan norma sosial. Bercerita juga menjadi semacam aset bagi para pencerita untuk diterima secara sosial, menerima dukungan komunitas bahkan memiliki keturunan yang sehat.


Bercerita merupakan cara manusia bertahan hidup


Dikutip dari artikel “Storytelling is how we survive”: Joan Didion menulis, “Manusia bercerita untuk hidup”. Semua orang merupakan seorang pencerita, itulah cara manusia untuk menjalani hidup sehari-hari. Kita bercerita pada diri sendiri, bercerita pada orang lain. Cerita merupakan mata uang kehidupan.


Pada artikel yang sama terdapat eksperimen yang menarik. Eksperimen tersebut menyelidiki 297 orang yang terdapat di 18 desa. Di setiap desa terdapat beberapa pencerita dongeng. Desa tersebut menjalani kesehariannya kemudian diamati bagaimana mereka mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki. Eksperimen tersebut berkesimpulan:

  1. Kelompok dengan pencerita yang memiliki kemampuan baik (skillful storytellers) memperlihatkan tingkat kerjasama yang baik juga.

  2. Semakin banyak pencerita di desa tersebut, semakin murah hati pula penduduknya.

Satu studi ini memang belum bisa dijadikan kesimpulan secara umum. Namun apabila kita pelajari manusia purbakala, mereka saling bertukar cerita setelah mereka beraktivitas mencari makan. Mereka saling bercerita di malam hari di tengah perapian. Cerita mereka menjadi semacam social bonding. Social bonding tersebut membuat mereka menaruh keprecayaan satu sama lain.


Cara bercerita purbakala tersebut kemudian mengalami perkembangan dari tulisan di goa, tulisan di batu hingga dongeng yang turun temurun. Di zaman sekarang, cara bercerita menjadi semakin modern dengan bantuan gambar dan video.


Mengapa otak kita menyukai cerita


Saat seseorang mendengarkan sebuah cerita, terdapat hormon yang dilepaskan pada otak orang tersebut. Hormon tersebut adalah hormon oxytocin. Hormon ini merupakan hormon empati dan naratif. Hormon oxytocin membuat kita lebih dipercaya (trustworthy), murah hati (generous) dan penuh belas kasih (compassionate). Studi ini telah dilakukan oleh Paul Zak pada tahun 2013. Lawan dari hormon oxytocin adalah hormon cortisol. Hormon cortisol dikenal sebagai hormon stress. Hormon cortisol menyebabkan tekanan darah tinggi, kekhawatiran yang berlebihan, depresi, menurunkan daya tahan tubuh dsb. Mungkin inilah alasan kenapa orang yang stress akan merasa lebih baik ketika ia bercerita keluh kesahnya.


Relevansi dengan guru sekolah minggu


Setelah kita belajar tentang storytelling, maka kita dapat mengambil kesimpulan sementara dalam kaitannya dengan pelayanan sebagai GSM:

  1. Bercerita merupakan hal natural yang dilakukan manusia, maka seharusnya GSM sudah memiliki modal awal sebagai pencerita.

  2. Saat kita bercerita, ada hormon oxytocin yang dilepaskan otak kita. Hormon ini membangun ikatan sosial antara si pencerita dengan orang yang diceritakan. Semakin baik seorang GSM bercerita, semakin banyak pula hormon oxytocin yang dilepaskan oleh otak ASM. Ketika ini terjadi ASM akan mengalami perubahan positif dan memiliki keterikatan sosial dengan GSM.

Nah, ada banyak metode bercerita. Di artikel ini saya akan berbagi metode cerita yang saya gunakan selama menjadi GSM. Sejauh ini, metode ini ampuh untuk menjaga fokus ASM dan membuat mereka engage dengan cerita Alkitab.


Imaginative Storytelling


Imajinative storytelling merupakan istilah yang saya formulasikan sendiri. Saya memberi definisi sebagai berikut:


Metode atau pendekatan bercerita dengan menstimulus imajinasi orang yang diceritakan.

Menurut saya, metode ini efektif karena anak-anak memiliki daya imajinasi yang tinggi. Sehingga tugas kita sebetulnya sederhana, yakni menstimulus imajinasi tersebut. Ketika ASM menggunakan imajinasinya, mereka akan belajar dengan lebih aktif.


Tantangannya adalah kita harus menghantarkan cerita dari Alkitab yang berbasis teks. Anak-anak harus dituntun sedemikian hingga mereka dapat membayangkan apa yang terjadi pada cerita Alkitab tersebut.


Metode ini saya pelajari pertama kali dari Ps. Andy Stanley dari North Point Community Church. Cara ia menyampaikan kebenaran Firman Tuhan sangat unik. Ia menggunakan layar TV yang memperlihatkan ayat demi ayat, bahkan terkadang kalimat demi kalimat kemudian ia menjelaskan ayat dan kalimat tersebut. Metode ini kemudian saya coba dan so far it works really well.


Metode imaginative storytelling


Saya lebih menyukai menyebut ini sebagai metode atau pendekatan dan bukan teknik bercerita. Berikut metode imaginative storytelling :

  1. Baca ayat demi ayat bahkan jika diperlukan baca kalimat demi kalimat. Cara ini merupakan cara yang paling penting dan rasanya bisa dikatakan signature dari metode imaginative storytelling.

  2. Setelah membacakan ayat atau kalimat tersebut, ajak ASM untuk membayangkan apa yang terjadi.

  3. Asosiasikan ayat atau kalimat tersebut dengan kehidupan sehari-hari. Tentu ASM tidak hidup di zaman Alkitab ditulis, oleh karena itu diperlukan analogi atau asosiasi yang mengaitkan apa yang dibaca dengan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani. Sebagai contoh: kita dapat menganalogikan profesi pemungut cukai pada zaman Alkitab dengan profesi yang tidak disukai masyarakat pada zaman ini.

  4. Guru sekolah minggu harus menjelaskan se-konkrit mungkin, jika diperlukan gunakan bahasa tubuh yang relevan, menggunakan alat peraga atau menggunakan bantuan visual (gambar, slide atau video).

  5. Guru sekolah minggu juga harus berani berimajinasi tentang situasi yang “tidak tertulis” di Alkitab. Sebagai contoh: GSM dapat memberikan imajinasi tentang bagaimana pikiran atau percakapan murid-murid Yesus saat Yesus menyuruh mereka untuk memberi makan lima ribu orang (Matius 14:13-21).

Metode ini harus dilatih. Guru sekolah minggu harus mau mencoba.

Walaupun bercerita merupakan hal natural yang dilakukan manusia, namun tetap harus dilatih supaya kita menjadi pencerita yang handal.

Persiapan imaginative storytelling


Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa walaupun bercerita itu natural bagi manusia namun merupakan kemampuan yang harus dipelajari dan dilatih. Apalagi dalam pelayanan kita sebagai GSM.


Nah, berikut persiapan yang biasa saya lakukan dalam kaitannya dengan imaginative storytelling:

  1. Imaginative storytelling memerlukan GSM yang imaginative. It’s very obvious, right? Kita tidak bisa menceritakan cerita yang “imaginative” kalau kita-nya sendiri tidak imaginative.

  2. Siapkan bagian cerita yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Untuk melakukan ini, maka GSM harus mengetahui kehidupan ASM. Caranya sebetulnya sederhana, yaitu dengan mengamati kehidupan ASM. Kita dapat mengamati bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain, bagaimana mereka bermedia sosial, bagaimana mereka berbicara, bahasa seperti apa yang mereka gunakan dsb.

  3. Jangan malas membaca dan melakukan studi sederhana tentang konteks ketika teks Alkitab ditulis. Hal ini akan membantu imajinasi kita sebagai GSM saat bercerita.

  4. Buat script atau naskah sederhana kemudian hafalkan script tersebut.

  5. Ceritakan dengan natural tanpa membaca script. Saat kita bercerita, usahakan tangan kita bebas. Jadi setelah kita selesai membaca ayat, kita bisa simpan Alkitab dalam keadaan terbuka di meja kemudian ajak ASM berimajinasi dengan menggunakan bahasa tubuh yang relevan.


The way Jesus tell the gospel

Saat saya berefleksi tentang metode imaginative storytelling ini, saya sampai pada renungan ini:

“Bukankah ini cara Yesus menyampaikan kebenaran tentang kerajaan Allah”

Kalau kita pelajari bagaimana Yesus menyampaikan kebenaran tentang Kerajaan Allah:

  1. Yesus menceritakan kerajaan Allah lewat perumpamaan. Perumpamaan pada dasarnya adalah sebuah cerita.

  2. Yesus menceritakan perumpamaan yang memiliki asosiasi dengan kehidupan orang yang ia ceritakan. Sebagai contoh: perumpamaan seorang penabur, talenta, anak yang hilang, menjala manusia dsb. Ia tahu persis dengan siapa ia berbicara dan menggunakan latar belakang kehidupan orang tersebut untuk menjelaskan konsep kerajaan Allah.

  3. Yesus berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti dan membawa imajinasi orang yang ia ceritakan.

Jesus is a skillful storytell