Kurang waktu atau kurang fokus?

So little time so much to do

Di tengah aktivitas kita sehari-hari, kita seringkali merasa kekurangan waktu. Seolah-olah waktu yang kita miliki sebanyak 24 jam/hari tidak cukup untuk melakukan banyak aktivitas. Tapi apakah memang benar demikian?


Beberapa bulan ini, saya mencoba untuk melihat kehidupan pribadi saya tentang masalah ini. Saya menemukan bahwa sebetulnya saya tidak kekurangan waktu, namun saya kekurangan fokus dalam mengerjakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan.


Hal ini terlihat dari aktivitas dengan smart phone yang berlebihan. Saya melihat data screen time pada smart phone yang saya gunakan, dan pada salah satu minggunya benar-benar memberikan reality check untuk saya pribadi:

  1. Instagram: 10 jam 44 menit

  2. WhatsApp: 7 jam 23 menit

  3. YouTube: 1 jam 16 menit

  4. Facebook 1 jam 8 menit

Total waktunya kurang lebih 13-14 jam. Melihat data itu, saya jadi berefleksi:

Apakah saya kurang waktu atau saya kurang fokus?

Saya ingat pada minggu tersebut, pekerjaan saya banyak tertinggal. Kalaupun ada pekerjaan yang bisa selesai, hasilnya pun kurang memuaskan/optimal bagi saya pribadi.


Dari data tersebut, saya juga mengakui bahwa aktivitas pada WhatsApp (WA) yang mencapai 7 jam 23 menit tidak digunakan untuk komunikasi yang memang berguna atau penting dalam hal pekerjaan utama maupun side hustle. Waktu di WA tersebut habis untuk:

  1. Catching up obrolan yang ngalor ngidul (kemana-mana) pada grup yang saya juga kurang kontribusi di situ.

  2. Melihat kiriman video, teks dan audio yang sebetulnya tidak menambah nilai positif bagi saya.

Saya pun berpikir lebih jauh:

Jika saya gunakan waktu 13-14 jam per minggu itu untuk hal-hal/aktivitas yang lebih berguna seperti membaca, belajar atau membuat sesuatu rasanya hidup saya akan jadi lebih baik di masa depan.

Di situ saya merasa bahwa saya bukan kekurangan waktu tapi saya kurang fokus.


Sumber daya perhatian

Saya merasa bahwa perhatian (attention) kita sebagai manusia merupakan suatu sumber daya yang harus kita kelola dengan baik. Karena apa yang kita perhatikan menjadi bagian dari hidup kita.


Reality check yang saya lakukan merupakan suatu contoh konkrit dari sumber daya perhatian ini. Saya menjadi kurang fokus, merasa kurang waktu karena saya malah memperhatikan apa yang terjadi pada smart phone daripada saya memusatkan seluruh perhatian/fokus pada pekerjaan/aktivitas yang saya lakukan.


Dan ini terjadi bukan hanya pada pekerjaan yang saya lakukan tapi aktivitas bersama dengan keluarga. Istri saya sering menegur karena saya terlalu memperhatikan smart phone ketimbang bermain bersama anak dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga.


Jadi, kalau selama ini kita diajari untuk mengelola uang, waktu dan energi; sekarang tampaknya kita harus mengelola perhatian kita. Smart phone yang kita miliki, hiburan yang ada di TV atau di komputer kita serta notifikasi yang tiada hentinya membuat kita memperhatikan hal-hal tersebut ketimbang kita memusatkan perhatian pada apa yang penting bagi masa depan kita.


Patut diakui juga, apa yang kita konsumsi di media sosial terkadang tidak menambah nilai apapun. Terkadang konten yang kita konsumsi hanya sekedar lucu, berita hoax, berita artis yang sebetulnya tidak berfaedah buat kita. Ini pengecualian ya untuk kalian yang memang aktivitas sehari-harinya ada di dunia media sosial seperti berjualan, menjadi admin suatu akun dsb. Tapi untuk sebagian besar diantara kita tampaknya kita harus memperhatikan bagaimana kita mengkonsumsi media-media tersebut.


Manage your attention, manage your life

Jadi, kita harus bagaimana?

Di sini saya ingin berargumen bahwa apa yang kita perhatikan harus dikelola. Dengan kata lain kita harus mengelola fokus yang kita miliki. Itulah kebiasaan yang sedang saya lakukan selama tiga minggu belakangan ini (kurang lebih 24 hari), yaitu dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan berikut:

  1. Melindungi waktu berharga untuk berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan/aktivitas yang penting. Saya belajar dari buku Deep Work, karya Cal Newport bahwa kita harus mengalokasikan waktu untuk berpikir/belajar secara "dalam", yang artinya melakukan aktivitas belajar/bekerja dengan fokus yang tinggi tanpa distraksi sama sekali. Di buku tersebut dikemukakaan bahwa walaupun kita "hanya sekedar" ngecek smart phone, "hanya sekedar" tersebut menciderai fokus yang kita miliki (Cal Newport mengistilahkan dengan attention residue). Itulah mengapa saat kita tidak fokus karena terdistraksi, hasil pekerjaan yang kita lakukan secara kualitas dan kuantitas jauh berada di bawah hasil apabila kita memiliki fokus yang penuh.

  2. Mengubah to do list menjadi time blocking. Saya biasanya menuliskan hal-hal yang saya hendak lakukan pada satu hari dalam bentuk daftar (to do list). Sekarang, saya menggunakan teknik time blocking dimana saya mengalokasikan/menjadwalkan sejumlah waktu untuk mengerjakan hal tersebut. Hal ini sangat membantu saya untuk menyelesaikan pekerjaan karena saya tahu kapan saya harus mengerjakan pekerjaan tersebut.

  3. Eat the frog. Kebiasaan eat the frog ini saya ambil pada dari buku yang memiliki judul yang sama. Frog di sini berarti pekerjaan yang harus kita lakukan, digambarkan sebagai "katak hidup" yang harus kita "makan". Jika "katak" tersebut (dalam hal ini pekerjaan) tidak kita makan pada awal hari, maka kita akan kepikiran tersebut tentang "katak" tersebut. Ini yang sering saya alami, ketika saya harus mengerjakan sesuatu dan saya tidak segera menyelesaikannya pada awal hari, saya akan terus kepikiran tetang pekerjaan tersebut. Pikiran tentang pekerjaan tersebut tentunya akan mengganggu fokus saya sepanjang hari.

  4. Miracle morning. Saya mencoba melatih diri untuk bangun lebih pagi dan mengerjakan pekerjaan utama saya pada hari tersebut. Kebiasaan ini saya ambil dari buku miracle morning. Kebiasaan yang saya lakukan sebetulnya sederhana yaitu tidak menggunakan smart phone sebelum saya mengerjakan pekerjaan yang harus saya lakukan pada hari tersebut dengan fokus yang penuh (tanpa distraksi). Selama 24 hari saya sudah mempraktekan isi dari buku tersebut, dan hasilnya sangat luar biasa.

Hasil kebiasaan selama 24 hari

Dua puluh empat hari sudah saya mencoba mempraktekan kebiasaan-kebiasaan di atas, dan ini hasil yang saya rasakan:

  1. Setelah setiap pagi mengerjakan pekerjaan yang harus saya kerjakan pada hari tersebut, saya merasa lebih positif dalam menjalani hari. Fokus saya cukup terjaga dan saya melalui hari dengan lebih baik. Ya bayangkan saya, sebelum pukul 7 pagi, saya sudah selesai melakukan pekerjaan penting dan bernilai pada hari tersebut.

  2. Saya jadi lebih waspada terhadap konsumsi media sosial. Saya jadi punya rem ketika saya mengkonsumsi secara berlebihan. Hasilnya, saya merasa saya lebih bisa memiliki fokus yang tinggi saat mengerjakan sesuatu.

  3. Dua puluh empat hari tersebut bukan tanpa tantangan. Terkadang saya merasa malas dan masih mengantuk ketika harus melakukan banyak hal pada pagi hari. Namun, dari buku Miracle Morning saya belajar bahwa motion creates emotion. Saya tidak bisa hanya mengandalkan motivasi saja, tapi saya harus disiplin.

So, hopefully sharing yang singkat ini bisa jadi berkat buat kalian yang membaca. Jika kalian punya struggle yang sama dan cara kalian untuk bisa mengatasinya, bisa kalian tuliskan di kolom komentar atau DM saya via instagram @christianfredynaa.