Refleksi 2019

Tahun 2019 sudah berlalu. Saya mencoba untuk meninjau tahun 2019 dengan menjawab tiga pertanyaan berikut:

  1. Apa yang berlangsung baik?

  2. Apa yang berlangsung kurang baik?

  3. Apa yang saya pelajari?

NOTE: Pertanyaan refleksi tahunan ini saya peroleh dari JamesClear.com (penulis Atomic Habits).


Apa yang berlangsung baik?


Menikah (Yeaaay...) 10 Agustus 2019 merupakan hari bahagia. Saya menikahi Karinska Lazuardi, seorang wanita yang saya pilih untuk menjadi penolong seumur hidup. Kami menikah di gereja yang telah menjadi bagian kehidupan kami, GKI Cimahi. So, I am officially (and legally) a husband.


Honeymoon to Japan. Jepang menjadi tujuan bulan madu. It was a well spent honeymoon, walaupun di hari pertama mengalami hujan lebat (ternyata hujan tersebut merupakan dampak dari badai Kroosa). Buat saya, honeymoon tersebut seperti "napak tilas" ketika dulu sempat menjadi mahasiswa di sana.


105 sesi. Setelah dihitung-hitung, ternyata saya telah membawakan seminar/workshop/sesi sebanyak 105 kali (that's a lot...). Berikut detailnya: 29 sesi kaum muda, 13 sesi orang tua, 11 sesi retreat/bina iman sekolah, 16 sesi sekolah minggu, 7 sesi guru (seminar/workshop), 5 sesi aktivis gereja, 11 khotbah ibadah minggu, 8 sesi universitas/mahasiswa dan 5 sesi podcast/radio.


Jabatan Wakil Dekan. Terhitung 31 Desember 2019, saya menyelesaikan tugas jabatan sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Fakultas Teknologi Industri (FTI), Universitas Katolik Parahyangan. It was a wonderful experience. Selama menjabat, saya semakin mengenal kultur mahasiswa (terutama di FTI); saya diperkaya dengan dinamika organisasi serta mengalami suatu lingkungan kolegialitas yang sangat membangun.


Civilization on Deity (finally...). Setelah main game ini sejak 2012, akhirnya bisa juga menang lawan AI (artificial intelligence) di level tertinggi (deity).


Apa yang berlangsung kurang baik?


Bidang keahlian. Setelah menjadi dosen sejak 2015 (so its been 4 years), saya masih belum menemukan bidang keahlian yang akan ditekuni dalam karir sebagai dosen. Cukup sulit untuk mencari bidang keahlian mengingat saya memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Saya memiliki latar belakang ilmu murni (fisika) dengan bidang fisika instrumentasi (S1); kemudian pemodelan serta komputasi fisis (S2); kemudian fisika material (S3). Idealnya saya menemukan bidang keahlian yang beririsan dengan dimana saya ditempatkan (teknik elektro, mekatronika). "Kesibukan"menjadi alasan saya belum menemukan bidang keahlian ini. Saya tidak mendedikasikan waktu khusus untuk melakukan riset. Apa yang tidak terjadwal, tidak akan pernah dilakukan.


In a rush and failing behind. Saya merasa tertinggal di sana sini. Jadwal kegiatan terkadang belum bisa saya kelola dengan baik. Deadline demi deadline saya selesaikan dengan sangat mepet. Setiap hari terasa terburu-buru. Saya juga merasa terlalu banyak mengambil komitmen tanpa pikir panjang akibatnya terhadap jadwal kegiatan. Imbasnya, saya merasa performa di setiap area kehidupan agak menurun.


Website pribadi. Sebelum website ini, saya memiliki website pribadi lainnya (domain .com). Namun website tersebut tidak memiliki konten baru sejak April 2019. Penyebab utamanya adalah karena saya tidak disiplin dalam menulis. Ada banyak ide, namun karena tidak mengalokasikan waktu untuk menulis, ide menjadi sekedar ide (lagi-lagi tentang dedikasi waktu). Selain itu rasanya saya kurang pandai dalam mengelola hosting web (terutama anti spam), sehingga website terserang spam yang sangat banyak.


Setback in ministry. Sepanjang tahun 2018-2019 saya banyak meninggalkan GKI Cimahi. Penyebabnya adalah karena saya banyak menerima tawaran pelayanan/seminar di luar. Kesibukan tersebut yang akhirnya membuat saya tidak memiliki waktu untuk memperhatikan dua badan pelayanan (remaja dan pemuda) baik secara organisasi maupun penggembalaan. Imbasnya, kualitas pelayanan menjadi menurun dan seolah-olah komunitas remaja dan pemuda kehilangan "induk"nya. I feel so guilty about this.


Apa yang saya pelajari?


Pentingnya memiliki sistem. Hal ini saya pelajari ketika mempersiapkan pernikahan. Sistem membantu saya untuk mengelola keuangan dengan lebih baik. Saya dan calon istri (ketika itu), memiliki google sheets yang berisi informasi keuangan bersama. Dimana kami dapat melihat kondisi keuangan serta melihat target jangka pendek dan jangka panjang (yang udah nikah tentu tau apa aja target-target itu). Sejak pengalaman itu, saya berkeinginan untuk memperluas sistem seperti ini ke area kehidupan lainnya.


Menuai hubungan baik. Masih refleksi tentang menikah. Saya belajar bahwa menanam hubungan baik itu sangat penting. Pemberkatan dan resepsi pernikahan saya dan istri dihadiri oleh banyak orang. We feel loved.


Kehadiran fisik sangat berarti. Kemunduran pelayanan membuat saya belajar (in the hard way) bahwa kehadiran fisik sangat penting. Di zaman teknologi ini, kita terkadang menaruh ekspektasi berlebih pada pesan singkat. Kehadiran secara fisik dapat membawa atmosfer yang konstruktif. Kehadiran fisik dapat membuat orang-orang di sekitar kita merasa tenang.


Due diligence. Due diligence memiliki definisi: reasonable steps taken by a person in order to satisfy a legal requirement, especially in buying or selling something. Istilah ini berasal dari bidang hukum. Saya meminjam istilah ini untuk melatih diri berpikir panjang, terutama mengenai komitmen yang menuntut waktu, pikiran dan tenaga. Dulu, ketika waktu dan tenaga masih berlimpah, tanpa pikir panjang saya mengiyakan suatu komitmen dengan orang lain. Sekarang, setiap tawaran saya pikirkan baik-baik. Saya harus mengetahui dengan rinci berapa jam yang harus saya alokasikan dan tenaga yang harus dicurahkan untuk memenuhi tawaran tersebut.


Success is the catalyst for failure. Kutipan ini saya peroleh dari buku Essentialism. Sukses sebagai pembicara yang mulai dikenal, membuat saya gagal dalam area kehidupan yang lain: pelayanan, pengelolaan waktu dan pengelolaan diri. Intinya, kesukesan menuntut mental dan pengetahuan yang lebih dalam mengelola apa yang kita punya.


Bertumbuh membutuhkan waktu


Bertumbuh itu ga mudah. Saya merasa ada banyak area kehidupan yang harus saya garap dengan lebih baik. Namun, itulah seninya menjadi manusia. Berusaha setiap hari melakukan hal-hal yang terlihat biasa namun dilakukan dengan konsisten dan disiplin. Bertumbuh juga memerlukan refleksi yang mendalam. Contoh refleksi seperti ini sangat membantu saya untuk mengukur progress kehidupan and I encourage you to do the same.


So, thank you 2019 and welcome 2020.

Postingan Terakhir

Lihat Semua