Relasi dan potensi

Di awal tahun 2020, saya merenungkan pertanyaan berikut:

Apa sih satu atau dua hal yang sangat penting bagi kehidupan seseorang?

Pertanyaan ini kemudian menuju perenungan selanjutnya:

Sedemikian pentingnya, hal-hal tersebut dapat menentukan masa depan seseorang.

Perenungan ini berangkat dari 15 tahun pengalaman ngurusin anak-anak, remaja, pemuda, siswa dan mahasiswa. Saya melihat anak-anak/remaja/pemuda yang tumbuh dengan sukses dan yang tidak (atau tepatnya belum) sukses.


Tidak lama setelah perenungan tersebut, saya sampai pada dua hal penting yakni relasi dan potensi.

Masa depan seseorang ditentukan oleh relasi yang ia bangun dan potensi yang ia kembangkan.

Relasi dan potensi merupakan dua hal terpenting dalam kehidupan seseorang bahkan dapat menentukan masa depan orang tersebut.


Potensi


Potensi dalam KBBI memiliki arti: kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan. Jadi, potensi itu masih sebuah kemungkinan. Suatu kemungkinan yang dapat terwujud jika dikembangkan. Misalnya seorang anak memiliki potensi untuk menjadi seorang insinyur. Saat ini anak tersebut belum menjadi seorang insinyur, ia “mungkin” menjadi seorang insinyur jika ia mengembangkan potensinya.


Potensi juga at some degree dapat disamakan dengan talenta atau bakat. Bedanya, talenta dan bakat itu dapat dilihat sekarang dan memiliki kemungkinan (berpotensi) untuk semakin berkembang jika talenta dan bakat tersebut dikerjakan.


Potensi itu pemberian Tuhan. Tidak ada seorang pun yang lahir ke dunia tanpa potensi. Namun, potensi tidak akan berarti apa-apa jika tidak dikembangkan. Mengembangkan potensi adalah tanggung jawab kita.

Potential is God’s given, but to cultivate it is self driven.

Potensi dikembangkan melalui disiplin dan kerja keras. Tanpa keduanya, potensi tidak akan berarti apa-apa. Misalnya seseorang yang diberi potensi menjadi atlet, tentu harus berlatih dengan disiplin hingga potensi tersebut menjadi kenyataan.


Tidak mudah untuk mengembangkan potensi. Kita harus memiliki disiplin dan kerja keras di saat ga mood. Mengembangkan potensi tidak bisa hanya dilakukan ketika senang atau ketika mood baik.


Saya ingat ketika kuliah S2 di Jepang. Almost every single day, I have to bike to campus. Bersepeda selama 45 menit - 1 jam, melewati bukit dan lembah untuk belajar dan menempa diri di lab. Kalau hanya modal “senang” dan “mood” potensi yang saya miliki tidak akan berkembang.


Think about this:

Jika mengembangkan potensi itu mudah, maka semua orang yang berpotensi (which is every single human) akan menjadi ahli dalam bidang potensinya. Tapi bukan itu yang kita lihat di dunia ini ‘kan?

Jika mengembangkan potensi itu mudah maka semua orang yang suka bernyanyi akan menjadi penyanyi.


Jika mengembangkan potensi itu mudah maka semua orang yang suka bermain sepak bola menjadi pemain bola profesional.


Bahkan seorang gamers profesional pun harus berlatih berkali-kali untuk bisa memenangkan turnamen.


Betul bahwa potensi itu dapat disamakan dengan talenta atau bakat yang (pada awalnya) dengan mudah kita lakukan. But at some point, kita akan menemui titik dimana potensi tersebut sudah tidak lagi menyenangkan untuk kita lakukan.


Relasi


Sebagaimana kita sekarang ditentukan oleh relasi yang kita bangun di masa lalu. Sebagaimana kita di masa depan juga ditentukan oleh relasi yang kita bangun sekarang. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam membangun relasi. Kita harus memilih orang-orang yang mempengaruhi kita.

Kita adalah produk dari orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Our relation determine our future.

Banyak orang yang tidak aware/waspada dengan orang-orang yang mempengaruhi mereka. Banyak orang yang tidak aware dengan suara siapa yang mereka dengar dan siapa yang mereka perbolehkah untuk mempengaruhi diri mereka. Banyak orang yang tidak aware dengan komunitas di mana mereka terlibat. Jika komunitas mereka tidak membangun, mereka pun tidak sadar bahwa lama kelamaan sifat dan kebiasaan mereka akan menjadi sama dengan komunitas tersebut.


Saya tidak berkata bahwa berteman harus pilih-pilih. Namun, kita harus memilih dengan siapa kita bergaul.

Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.

Saya telah melihat bagaimana relasi sangat berperan pada masa depan seseorang (terutama pada anak muda):

  1. Saya melihat ada seorang remaja yang mendapat didikan yang baik rumah oleh orang tua dan keluarga mereka, namun karena “salah gaul” remaja tersebut mencoba banyak hal yang akhirnya merusak dirinya sendiri. Remaja tersebut ingin diterima di komunitas di mana dia ada, sayangnya komunitas tersebut memiliki pola perilaku yang merusak.

  2. Saya juga melihat bagaimana relasi yang baik bisa mengubahkan orang menjadi lebih baik. Seorang remaja yang tadinya malas belajar menjadi rajin belajar “hanya” karena ia mengubah pola pergaulannya. Saya juga pernah melihat bagaimana seorang pemuda yang tadinya hidup asal-asalan menjadi seorang pemuda yang memiliki tujuan dalam hidupnya “hanya” karena ia terlibat dalam kelompok kecil di gerejanya.

My point:

Memilih pergaulan dan komunitas merupakan sebuah keputusan.

Kita hanya memiliki waktu yang terbatas dalam hidup kita. Kita juga memiliki keterbatasan pada jumlah orang yang kita perbolehkan dekat dengan kita. Oleh karena itu, milikilah kebijaksanaan dalam memilih pergaulan dan komunitas.


If I should choose...


Kalau saya harus memilih antara potensi dan relasi, maka saya memilih relasi. Why? Karena potensi itu merupakan keniscayaan (inevitable). Tidak ada seorang pun yang Tuhan ciptakan tanpa memiliki potensi. Bahkan saya memiliki keyakinan bahwa kita tidak perlu meminta potensi kepada Tuhan. Kita “hanya” harus mencari tahu, menggali dan mengembangkan potensi tersebut. Sementara relasi? Kita harus dengan sengaja (intentional) memilih dengan siapa kita berelasi. Relasi dapat membantu kita menggali potensi atau malah membuat kita mengubur potensi tersebut.

Potensi membutuhkan relasi untuk berkembang. Potensi tidak dapat berkembang dalam isolasi.

My life’s mission


Di artikel singkat ini, saya menyuarakan apa yang menjadi perenungan dan kegelisahaan saya di awal tahun 2020 ini. Dan apabila artikel ini "beresonansi" dengan Anda, ada beberapa pertanyaan berikut yang dapat direnungkan:

  1. Sudahkah saya mengetahui potensi yang Tuhan berikan untuk saya?

  2. Sudahkah saya bertanggung jawab pada potensi tersebut dengan mengembangkannya?

  3. Sudahkah saya memiliki relasi yang baik dan membangun?

  4. Haruskah saya mengubah pola pergaulan dan komunitas di mana saya ada?

Semoga artikel ini memberi inspirasi dan membawa perubahan positif.


I’ll see you in the next post.


Note: artikel ini merupakan bagian dari materi roadshow seminar guru BPK PENABUR dalam rangka tujuh dasawarsa BPK PENABUR.