Sharing Mengajar Kuliah Online

Akibat pandemi COVID19, setengah semester genap 2019/2020 ini perkuliahan dilakukan secara online. Rasanya baik mahasiswa maupun dosen di universitas yang "konvensional" belum terbiasa dalam perkuliahan online ini.


Saya bersyukur pada tahun lalu sempat membuat video tentang satu mata kuliah. Sehingga sudah lumayan terbiasa dalam membuat konten kuliah dalam bentuk video. Pada semester ini, pengalaman tersebut bertambah dan kalau dilihat dari feedback mahasiswa, I think I did the job really well.


Pada post ini, saya hendak berbagi pengalaman tentang perkuliahan online. Semoga sharing ini bisa membantu para pengajar (dosen) yang masih menemui kesulitan dalam membuat perkuliahan online. Sharing ini berasal dari pengalaman pribadi, belajar dari orang lain serta feedback dari mahasiswa.


Pre-recording vs video conference

Setidaknya terdapat dua model dalam perkuliahan online ini. Model pertama adalah yang saya gunakan yaitu pre-recording, dimana dosen membuat konten video pembelajaran kemudian di-upload ke Google Classroom. Model kedua adalah dengan menggunakan video conference di mana dosen pada jam kuliah “bertatap muka” dengan para mahasiswa melalui layanan seperti Zoom atau Google Meet.


Berdasarkan feedback dari mahasiswa, mereka lebih menyukai model pre-recording. Alasannya diantaranya:

  1. Jika menggunakan video conference, maka keadaan sinyal atau koneksi internet menjadi sangat krusial. Ketika sinyal atau koneksi terganggu mahasiswa akan kehilangan informasi.

  2. Jika menggunakan pre-recording, mahasiswa dapat belajar kapan pun dan materi kuliah dapat diulang.

Ada juga yang menggabungkan kedua model ini, jadi kuliah yang “tatap muka” direkam kemudian hasil rekamannya dibagikan kepada mahasiswa. Namun, menurut saya kurang efektif karena durasi video akan terlalu panjang selain itu gangguan sinyal atau koneksi yang bersumber dari dosen akan tetap terekam.


Kualitas suara

Mahasiswa sangat menghargai dan sangat terbantu jika kualitas suara sangat baik. Oleh karena itu, kualitas suara harus sangat diperhatikan. Ada beberapa yang saya pelajari tentang kualitas suara ini, diantaranya:

  1. Kualitas microphone sangat berpengaruh. Harga microphone pun bervariasi. Saya menyarankan agak sedikit “ngemodal” untuk membeli microphone. Saya sendiri menggunakan microphone Audio Technica AT2020 USB+. Microphone ini bertipe cardioid condenser yang menurut saya sangat sesuai untuk merekam kuliah online. Saya menyarankan investasilah di microphone yang harganya relatif murah, misalnya merk Taffware tipe BM900.

  2. Rekam kuliah di ruangan yang noise-nya relatif rendah. Jika ruangan terlalu besar maka akan terjadi gaung yang membuat kualitas suara turun. Apabila kebetulan tinggal di rumah yang lingkungannya memang agak berisik, coba pertimbangkan untuk melakukan rekaman pada malam hari.

Tipe microphone yang paling sesuai untuk kuliah online adalah tipe cardioid condenser

Adakan forum diskusi setelah pembelajaran video

Mahasiswa menyarankan untuk mengadakan forum diskusi, baik melalui chat room atau pertemuan video conference setelah video tersedia. Ini yang kurang saya manfaatkan pada perkuliahan yang lalu. Mahasiswa merasa cara ini efektif karena mereka memiliki sarana untuk bertanya kepada dosen tentang materi video yang mungkin kurang mereka mengerti. Jadi, menurut saya, model pre-recording dan model video conference dapat dikombinasikan seperti ini dimana video conference hanya dilakukan untuk berdiskusi.


Biasakan mendengar suara sendiri

Setelah kita merekam materi kuliah, maka kita akan mendengar suara kita sendiri. Tentu saja akan terasa lucu, geli dan kita akan merasa bahwa suara kita jelek. Hal tersebut normal terjadi dan sometimes we are our greatest critics. Percaya deh, bahwa yang bilang suara kita jelek itu hanya kita saja kok. Mahasiswa tampaknya “rindu” juga mendengar suara kita melalui video. Nah, supaya kita tidak merasa aneh dengan suara sendiri, buatlah rekaman video sebanyak mungkin sehingga kita menjadi terbiasa.


Yang bilang suara kita jelek itu ya kita sendiri, we are our greatest critics

Terlihat wajah pada rekaman kuliah

Saya membuat dua tampilan berbeda saat membuat video kuliah. Tampilan pertama hanya slide dan suara saya, tampilan kedua ada wajah saya yang juga ditampilkan di pojok kanan bawah slide (saya menggunakan blue screen supaya hanya wajah yang terlihat).


Nah, ternyata dari feedback mahasiswa, mereka lebih menyukai wajah dosennya juga ada di konten video. Mereka berpendapat bahwa dengan terlihat wajah dosen, ada ekspresi yang dan penekanan pada bagian materi kuliah yang penting, selain itu mereka merasa seperti pengajaran dilakukan seperti di kelas fisik.


Durasi video tidak lebih dari 15 menit

Mahasiswa menyarankan agar durasi video tidak lebih dari 15 menit. Dengan demikian, materi kuliah cukup digestible bagi mahasiswa. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai dalam membagi materi kuliah menjadi sub pokok bahasan.


Semoga sharing ini bisa menambah value pada rekan-rekan pengajar. Menurut saya, apapun kondisinya kita sebagai pengajar harus terus memberikan yang terbaik bagi mereka yang kita ajar (mahasiswa).


Happy teaching guys.