Sharing perjalanan melek finansial

Diperbarui: 31 Des 2020

Gw bukan orang yang diajarin cara ngatur keuangan. Akibatnya, seinget gw di usia 28 tahun gw sama sekali ga punya tabungan. Kebanyakan uang gw habis untuk beli gadget, beli pengalaman (traveling), makan, apparel dan beli buku. Selama gw sekolah di luar negeri pun, uang beasiswa yang sebenernya bisa gw tabung, habis ga bersisa.


Gw inget pertama kali gw harus mulai sadar harus nabung adalah ketika gw mao nikah (Agustus 2018). Gw dan istri (calon istri ketika itu) mulai buka tabungan berdua dan mulai isi setiap rupiah yang bisa kami kumpulkan untuk modal nikah.


Sekarang, Puji Tuhan kesehatan keuangan kami sehat, dan di post kali ini gw mao share perjalanan gw melek finansial yang menurut gw cukup praktis (dan perlu disiplin tentunya).


Mencatat pemasukan dan pengeluaran


Menurut gw langkah pertama untuk melek finansial adalah mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran. Gw belajar ini dari seseorang pakar keuangan namanya Dave Ramsey. Silahkan cek orang ini, dia punya website, ada juga youtube dan dia ada podcast yang kita bisa belajar mindset dan tips keuangan. Dave Ramsey ngajarin bahwa kita adalah tuan dari uang yang kita punya. Kita yang harus "menyuruh" setiap uang yang kita punya dengan sengaja (intentional). Dengan demikian kita jadi ga impulsif ketika kita menggunakan uang.


Setelah gw lakukan tips itu, gw jadi sadar bahwa banyak banget uang gw yang habis gak karuan. Entah itu overspending di makan, main, beli gadget dsb. Dari situ gw belajar bahwa

Kita jadi sadar akan hal keliru yang kita lakukan ketika kita mulai mencatat

Sekarang gw pake app yang namanya moneylover. App-nya gratis dan bisa dipake berdua (sync). Jadi gw dan istri pake app ini barengan, dengan demikian kami saling akuntabel satu sama lain.


Mengatur keuangan bulanan


Tips selanjutnya dari Dave Ramsey adalah mengatur keuangan bulanan. Proses pengaturan ini mesti dilakukan pada hari dimana kita mendapatkan penghasilan bulanan. Jadi tanggalnya harus ditetapkan secara rutin. Kalau gw, tanggalnya adalah tanggal 27 setiap bulannya. karena pada saat itulah gw mendapatkan gaji dari tempat dimana gw bekerja. Setelah tanggal 27, biasanya gw akan mendapatkan income tambahan, berupa vakasi/honor setiap gw bawakan webinar.


Uang tersebut kemudian kita bagi dalam beberapa pos, misalnya nih kalau gw:

10% perpuluhan (kalau kalian Kristen, kalian ngerti apa itu perpuluhan, intinya memberikan 10% penghasilan untuk Tuhan), sekitar 30% nabung, kemudian sisanya untuk hidup.


Nah, persentase di atas seharusnya masih bisa dibagi menjadi persentase untuk kebutuhan pokok, untuk liburan, untuk hangout, untuk belajar dsb.


Satu tips lagi, untuk pos-pos keuangan yang penting seperti perpuluhan atau nabung, kita harus alokasikan sejak awal. Idealnya 'tu kita punya rekening lain yang kita transfer rutin setiap bulan. Sejak gw mengerti konsep ini, gw jadi punya rekening yang khusus gw pake untuk dana darurat dsb.


Dana darurat


Dari Dave Ramsey juga gw belajar untuk mempersiapkan dana darurat. Dana darurat ini dipakai untuk (obviously) darurat: misalnya untuk perbaiki kendaraan, untuk memperbaiki rumah, biaya berobat, biaya hidup kalau-kalau (mit amit) kita kehilangan pekerjaan. Idealnya, dana darurat dipersiapkan sebanyak 3x biaya hidup bulanan (untuk single) dan 6x untuk yang sudah berkeluarga.


Dan saat gw memahami konsep dana darurat ini, gw merasa bahwa gw tu bego banget sampe dana darurat aja ga punya. Padahal 'kan siapa yang tahu apa yang kita alami secara tiba-tiba di masa yang akan datang.


Proteksi/Asuransi


Asuransi merupakan hal yang baru aja gw urus di akhir tahun 2020 ini. Gw menyadari-nya belakangan. Belum sampe kena akibatnya sih, seperti sakit keras atau rawat inap. Gw mulai menyadari pentingnya punya dana darurat ketika gw melihat beberapa teman yang keluarganya kena sakit keras dan bingung harus bayar berobat gimana.


Sekarang gw ngambil asuransi di Allianz, berupa kartu rumah sakit dan asuransi jiwa. Gw proteksi juga istri dan anak gw. Sekarang gw harus bayar sekitar Rp. 3.500.000,- per bulannya. Begitu gw liat angka ini emang cukup besar dan angka segini tu bisa gw pake untuk keperluan lain. Tapi gw menyadari bahwa asuransi itu adalah melindungi resiko. Kalau kata temen gw:

Kalau kita punya asuransi, biarlah pada saat kita sakit, kita hanya mikirin sakitnya aja, ga mikirin biayanya

Betul juga sih. Jadi saat gw menyadari ini di akhir tahun 2020, gw langsung hubungi agen kenalan dan sign in dengan mereka.


Guys, asuransi itu melindungi resiko. Resiko yang kita sama sekali ga tahu akan terjadi di masa depan. Saran gw, bagi kalian yang belum punya, ada baiknya untuk sign in dan lindungi resiko kalian di masa depan.


Investasi


Dulu, gw paling geli denger kata "investasi" dan "bisnis". Apalagi yang namanya "trading". Gw juga orang yang menghindari kalau ada percakapan kayak gitu. Karena saat itu, gw berpikir buruk tentang yang namanya investasi. Saat itu gw berpikir bahwa investasi hanya bagi mereka yang ingin cepat kaya.


Sampai gw belajar dari satu webinar di GKI Gading Indah tentang investasi. Di webinar itu, ada 3 syarat yang harus dipenuhi sebelum melakukan investasi:

  1. Casflow, pengeluaran harus lebih kecil dari pemasukan. Hal ini gw dapat pastikan sudah, karena ya tadi, gw mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan cermat.

  2. Dana darurat. Sudah terpenuhi.

  3. Proteksi/asuransi. Baru saja terpenuhi.


Kemudian yang gw pelajari ternyata investasi itu bukan hanya untuk cepat kaya atau untuk yang berbisnis saja. Ternyata:

Kita melakukan investasi untuk memenuhi tujuan keuangan di masa depan

Tujuan keuangan seperti pensiun, uang sekolah anak dsb. Setelah gw ngerti sama yang namanya investasi untuk tujuan keuangan, gw mulai berinvestasi di reksa dana. Reksa dana atau dalam Bahasa Inggris disebut mutual fund merupakan investasi dengan resiko yang kecil dan cocok untuk pemula dan yang belum punya banyak uang.


Intinya yang gw pelajari dari reksadana adalah disiplin menabung dengan benefit bunga/keuntungan yang melebihi bunga deposito. Reksa dana itu ga bikin jadi kaya, tapi untuk memenuhi tujuan keuangan. Sebagai contoh, gw punya beberapa tujuan keuangan yang gw buat dalam portofolio terpisah sebagai berikut:

  1. Pensiun, target gw punya 4 miliar rupiah pas usia gw 65 tahun.

  2. Uang sekolah untuk masuk dan biaya bulanan TK anak gw, jangka waktunya 4 tahun lagi. Begitu diitung, gw hanya perlu nabung perbulan 390 ribu.

  3. Uang kuliah sampe lulus anak gw, 17 tahun lagi dan gw hanya perlu nabung 480 ribu per bulan.

Gw juga lagi nambah tujuan keuangan untuk furnitur rumah dan liburan. Intinya tujuan keuangan ini gw set di reksadana.


Nominal targetnya gw hitung pake konsep yang namanya future value, dimana kita hitung harga saat ini, kita perkirakan inflasi dan kita bisa dapatkan harga di masa depan. Harga di masa depan ini yang gw masukan dalam aplikasi sehingga gw tahu dalam sebulan gw harus nabung berapa.


Untuk aplikasinya gw pake aplikasi yang namanya bibit. Di app ini kita bisa set portofolio reksadana sesuai dengan tujuan keuangan kita, kemudian kita bisa set nabung per bulan dan bisa dibayarkan lewat gopay atau transfer bank.