Social distancing = “mager” by default. Sebuah rangkuman tentang social distancing.

Social distancing”, istilah yang akhir-akhir ini kita dengar di tengah pembatasan aktivitas akibat pademi virus COVID-19. Gw sendiri baru denger nih istilah ini, lalu cari-cari referensi untuk belajar lebih dalam tentang social distancing. Berikut beberapa rangkuman yang udah gw pelajari dari berbagai sumber:


Apa itu social distancing?

Dulu waktu kuliah gw diajarin, “kalau bingung tentang istilah atau konsep, selalu kembalikan ke definisinya”. Jadi, apa sih definisi dari social distancing?

Social distancing itu adalah cara untuk menjaga orang-orang untuk tidak saling berinteraksi secara dekat dan berinteraksi terlalu sering sehingga penyebaran penyakit bisa diminimalisir.

Apa dampak social distancing pada kehidupan pribadi kita?

Ada beberapa dampak yang akan kita alami dalam kehidupan keseharian kita. Berikut beberapa diantaranya:

  1. Tempat-tempat berkumpul akan ditutup. Intinya, makin sedikit orang-orang ngumpul ya makin baik. Maka cara paling efektif adalah menutup tempat-tempat umum dimana orang bisa berkumpul. Itu yang dilakukan pemerintah ketika menutup tempat hiburan, taman bermain, sekolah hingga menghimbau orang-orang untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah.

  2. Event-event yang sifatnya mengumpulkan banyak orang dibatalkan atau ditunda. Event kayak konser, pameran, seminar dibatalkan atau ditunda. Ini nih yang gw alami, ada banyak event sesi bicara yang dibatalkan dan ditunda, salah satunya roadshow seminar guru HUT Tujuh Dasawarsa BPK PENABUR.

  3. Kalaupun harus berkumpul, jarak antar orang harus dijaga, minimal 1.8 meter (6 feet). Angka ini gw dapet dari panduan CDC (Center for Disease Control) tentang perkumpulan orang (social gathering). Panduan ini emang terkesan lebay, tapi harus tetap dilakukan untuk meminimalisir kontak.

Intinya, social distancing dilakukan untuk membatasi pergerakan kita. So, ini saatnya untuk mager by default.


Mengapa social distancing efektif untuk mengurangi penyebaran COVID-19?

Kemarin ‘tu ada satu artikel banyak dibagikan di media sosial. Artikel itu ditulis oleh Harry Stevens, seorang reporter grafis The Washington Post. Judul artikelnya: ”Why outbreaks like coronavirus spread exponentially, and how to flatten the curve”. Berikut beberapa rangkumannya:

  1. Artikel dimulai dengan data berupa grafik jumlah kasus terhadap waktu. Kurva tersebut mengikuti kurva eksponensial. Artinya jumlah orang yang terjangkit meningkat secara signifikan. Di Amerika, jumlah kasus mencapai 2.179 kasus hanya dalam waktu 51 hari.

  2. Penyebaran virus dapat diperlambat dengan melakukan social distancing seperti menghindari tempat umum dan membatasi mobilitas manusia.

  3. Nah, yang keren 'tu artikel ini menunjukan hasil simulasi penyebaran penyakit pada 5 orang kemudian pada 200 orang. Dari simulasi ini diambil kesimpulan bahwa dalam waktu yang singkat, jumlah orang yang terkena penyakit meningkat secara signifikan.

  4. Simulasi menunjukan kurva jumlah orang yang terjangkit akan menurun, dengan asumsi orang yang terjangkit kemudian memulihkan dirinya sendiri (recovered person).

  5. Untuk menghambat penyebaran penyakit, simulasi kemudian menunjukan apabila dilakukan forced quarantine. Adapun definisi karantina adalah memisahkan atau membatasi gerakan orang yang sudah terekspose virus kemudian diamati apakah orang-orang ini menjadi sakit atau tidak. Namun, simulasi menunjukan forced quarantine sangat sulit untuk dilakukan secara sempurna karena masih ada interaksi dengan orang yang sehat (seperti pengiriman makanan, pengiriman supply medis dsb).

  6. Nah, artikel kemudian melanjutkan dengan simulasi social distancing. Pada simulasi ini, jumlah orang yang bergerak dibatasi. Hal ini mengakibatkan kurva orang yang tertular menurun. Semakin banyak orang yang melakukan social distancing, kurva orang yang tertular semakin menurun.

Dari artikel ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa untuk membantu menurunkan penyebaran virus COVID-19, maka yang bisa kita lakukan adalah membatasi pergerakan kita dengan beraktifitas di rumah.


Apa bedanya social distancing dan lockdown?

Di Indonesia lagi rame nih tentang lockdown. Like I say before, supaya ga bingung kembalikan istilah pada definisinya. Kita review dulu definisi dari social distancing:

Social distancing itu adalah cara untuk menjaga orang-orang untuk tidak saling berinteraksi secara dekat dan berinteraksi terlalu sering sehingga penyebaran penyakit bisa diminimalisir.

Sementara, definisi dari lockdown:

Suatu kondisi darurat dimana orang dilarang untuk masuk atau keluar dari area terlarang atau gedung dikarenakan ada bahaya tertentu.  

Jadi lockdown itu kita betul-betul dilarang untuk keluar rumah. Ketika orang ga keluar rumah, otomatis dia tidak akan berinteraksi dengan orang lain. Tapi, tentu saja aktivitas akan semakin terganggu. Beberapa negara yang telah melakukan lockdown (hingga saat tulisan ini dibuat) diantaranya: Italy, Malaysia, Perancis dan Singapore.


Kenapa Jakarta (atau Indonesia) belum melakukan lockdown?

Gw sih yakin, para pengambil keputusan di negara ini memiliki banyak pertimbangan. Salah satunya dampak ekonomi yang bisa terjadi di Jakarta yang kemudian akan berdampak ke daerah lain.


How we can help? Gimana cara kita menolong di situasi COVID-19?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, coba deh pikirin solusi terbaik untuk mengatasi virus COVID-19? Lalu, coba pikirin kontribusi yang bisa kita lakukan untuk solusi tersebut. Ini beberapa jawaban yang bisa gw pikirin:

  1. Vaksin COVID-19. Wah, ini akan jadi solusi yang manjur. Kita tinggal di vaksin trus kebal deh. Lalu apa bisa bantu bikin? Kayaknya engga ya, kecuali kita ini microbiologist, lalu punya laboratorium yang canggih.

  2. Obat COVID-19. Kalau vaksin untuk yang sehat, obat untuk yang udah sakit. Solusi yang manjur banget, kalau sakit ya tinggal minum obat. Nah, bisa buat-nya ga? Kayaknya engga, kecuali kita ini tukang obat hebat nan dahsyat lalu sekali lagi harus ada laboratorium yang mumpuni.

  3. Social distancing. Di deskripsi di atas, gw udah kasi rangkuman tentang betapa efektifnya social distancing. Kita juga bisa melakukannya dengan membatasi aktivitas sehari-hari. Kalau bisa belajar, bekerja dan beribadah di rumah maka lakukanlah, seperti himbauan dari Pak Presiden. Puasa ngafe dan nongkrong juga bisa kita lakukan, toh? Beberapa diantara kita mungkin ga mungkin untuk kerja dan belajar di rumah, tapi yang penting hati-hati aja. Jaga jarak ketika berada di kerumunan, pake masker, rajin cuci tangan dsb.


Gw punya prinsip dalam hidup yang bikin gw jadi orang yang sangat jarang mengeluh:

Do what you can do

Social distancing bisa kita lakukan. Semakin banyak orang yang sadar, semakin banyak orang yang membatasi gerak dan mobilitasnya maka semakin cepat pandemi ini berakhir.


Happy mager by default, guys.

Stay safe, stay healty and God bless us.


Note

Beberapa referensi yang gw pelajari:

  1. Why Experts Are Urging Social Distancing to Combat Coronavirus Outbreak

  2. Get Your Mass Gatherings or Large Community Events Ready, CDC

  3. Taking Care of Your Behavioral Health:TIPS FOR SOCIAL DISTANCING, QUARANTINE, AND ISOLATION DURING AN INFECTIOUS DISEASE OUTBREAK

  4. Why outbreaks like coronavirus spread exponentially, and how to “flatten the curve”

  5. Lockdown, Merriam Webster Dictionary