Tiga pertanyaan untuk menyiapkan public speaking yang inspiratif

Banyak orang yang ingin bisa berbicara di depan publik, tapi ga banyak orang yang bersedia investasikan waktu (dan usaha) ketika mempersiapkannya.


Menurut gw alasannya sederhana, ketika bicara di depan banyak orang yang lihat. Ego dan pride muncul. Tapi ketika nyiapin-nya, ga ada yang lihat. You work in silence.


Orang juga dominan terjebak pada kemampuan “kemasan” public speaking seperti bahasa tubuh, intonasi suara, percaya diri dsb. Hal-hal itu penting, tapi menurut gw konten atau isi jauh lebih penting.


Kita bisa mengaplikasikan semua kemampuan "kemasan" di atas tapi kalau konten kita ga menginspirasi, then whats the point of speaking?


Bicara di depan itu bukan tentang diri sendiri, tapi gimana kita membawa value untuk orang yang mendengar kita.

Speaking should bring value to people, its not about us.

Event terbesar (sejauh ini)


Tahun ini, saya dipercaya untuk menjadi pembicara di seminar guru HUT Tujuh Dasawarsa BPK PENABUR. Sebuah kesempatan yang mulia, ketika dipercaya untuk menginspirasi para guru BPK PENABUR se-Indonesia.


Di usia semuda ini (33 tahun), tugas itu ga mudah. Bahkan beberapa kali orang-orang kaget ngeliat saya yang ternyata adalah pembicara di seminar guru. “Ga nyangka se-muda ini”, gitu kurang lebih kata mereka.


Rencana total ada 13 seminar di Jabodetabek, Sukabumi, Bandung, Bogor, Cirebon dan Bandar Lampung. Sampai sekarang baru selesai 6 seminar, sementara terhenti dulu karena wabah COVID-19 ini.


Puji Tuhan feedback dari para guru sangat positif. Padahal yang saya sampaikan sebetulnya basic banget.


Gw suka menyampaikan sesuatu yang sangat dasar, yang fundamental daripada suatu konsep yang "wah". Karena menurut gw, kita ini 'kan lebih banyak tersandung di hal-hal yang dasar dan fundamental.

Kita lebih banyak tersandung di hal-hal yang dasar dan fundamental.

Nah, di post ini saya mau berbagi sedikit bagaimana saya menyiapkan materi ketika dipercaya untuk menjadi seorang pembicara.


Ada 3 pertanyaan yang membantu saya ketika menyiapkan materi untuk public speaking:


1. Apa yang kita mau audience tahu (knowing)?


Pertanyaan pertama ini bersifat informatif. Sesuatu yang informatif dapat menambah pengetahuan audience. So, kita harus menyampaikan pengetahuan yang relevan yang bisa kita bagikan kepada audience.


Di seminar guru BPK PENABUR, saya berbagi tentang Top Skill 2022 menurut World Economic Forum. Guru-guru harus tahu kemampuan apa yang relevan di masa yang akan datang, sehingga mereka dapat melatih kemampuan tersebut dan mengaplikasikannya ke murid-murid.


Nah tentunya untuk bisa memberi pengetahuan ini, kita sendiri harus punya banyak pengetahuan. Caranya adalah membaca dan rajin mengumpulkan artikel menarik yang bisa kita sampaikan saat melakukan public speaking.


Tapi ada catatan dari saya: jangan pakai istilah yang sulit dimengerti. Jangan ingin terlihat pintar karena kita punya kosakata yang “wow”. Jadilah orang yang dimengerti dan relevan dengan berbahasa yang sederhana.

Keep it simple guys, keep it simple... don't even try to look smart...

2. Apa yang kita mau audience rasakan (feeling)?


Menurut saya, perubahan yang baik itu selalu dimulai dari hati. Pengetahuan tidak akan ada artinya jika tidak menstimulus emosi dan membawa perubahan.


Dalam konteks seminar guru ini, saya harus bisa menginspirasi bukan hanya pengetahuan para guru, tapi juga perasaan mereka. Karena, menurut saya mengajar itu adalah produk hati. Seseorang bisa punya pengetahuan yang banyak untuk dibagikan, tapi kalau ia tidak memiliki hati seorang pengajar maka ia akan menganggap profesinya hanya sebagai sebuah pekerjaan, bukan sebuah kesempatan mulia untuk mendidik.

Mengajar itu produk hati

Nah, ini yang saya pelajari selama jadi public speaker: kita harus merasakan terlebih dahulu apa yang kita mau audience rasakan. Kalau mau audience terinspirasi, maka kita duluan yang harus terinspirasi. Atau lebih dari itu, kita harus jadi inspirasi dulu.

Be inspired first, and then you can inspire people. Or even more powerful, be an inspiration...

Sepanjang pengalaman saya, cara terbaik untuk menyentuh emosi adalah dengan bercerita (story telling). Saya selalu menaruh pesan di cerita yang saya sampaikan sehingga cerita tersebut ga cuma sekedar cerita.


3. Apa yang kita mau audience lakukan (doing) ?


This is the ultimate purpose of public speaking. Kita ga mau audience hanya sekedar mengetahui dan merasakan sesuatu. Mengetahui dan merasakan harus menjadi katalis bagi audience untuk melakukan sesuatu.


Di seminar guru BPK PENABUR, saya berharap ada tindakan yang berubah dari para guru. Tindakan lebih peduli pada murid, tindakan melakukan kerja ekstra ketika mengajar dan berharap mereka bisa melakukan inovasi dalam pengajaran. Muara dari setiap public speaking adalah pada bagian ini, yakni melakukan sesuatu. So, identifikasi hal-hal apa yang kita mau audience lakukan setelah mendengar apa yang kita katakan.

Muara dari setiap public speaking adalah melakukan sesuatu. The ultimate purpose is in doing part.



Berikan usaha terbaik ketika persiapan


Sebagai rangkuman: Public speaking bukan hanya tentang penampilan kita di depan panggung. Public speaking adalah tentang memberi dampak pada mereka yang mendengar kita berbicara.


Dampak tersebut adalah:

  1. Berdampak pada pikiran mereka: apa hal baru yang mereka bisa pelajari.

  2. Berdampak pada perasaan mereka: perasaan apa yang mereka bisa rasakan.

  3. Berdampak pada tingkah laku: tindakan apa yang dapat mereka lakukan setelah mendengarkan kita berbicara.

Dan untuk memberi dampak tersebut, kita harus kasi waktu dan usaha terbaik di persiapannya.


Saya berharap sharing ini bisa menjadi berkat. God bless.